GPConsulting > Uncategorized > Warisan Seni Kebiasaan Sumbar yang Masih Terjaga sampai Kini

Warisan Seni Kebiasaan Sumbar yang Masih Terjaga sampai Kini

  • Enviado por: cipung

Padang – Sumatera Barat memiliki warisan seni kebiasaan yang kaya dan berbagai, yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Meskipun zaman terus berubah dan modernisasi terus berkembang, namun keberadaan warisan seni kebiasaan Sumatera Barat masih konsisten terjaga sampai kini, memberikan kekayaan dan keindahan yang tak ternilai bagi masyarakatnya.

Estetika dan keberagaman kesenian Minangkabau ialah warisan yang dapat menyokong dan melengkapi kesenian lain yang banyak berada di Indonesia.

Berikut ini sebagian warisan seni kebiasaan di Sumbar yang masih terjaga sampai kini, diinfokan daei berbagai sumber:

1. Silek

Bela diri orisinil masyarakat Minangkabau ialah silat atau silek. Silek atau silat sangat identik dengan musholla di Minangkabau.

Sebab, laki-laki di Minangkabau saat beranjak slot server thailand dewasa harus tinggal di musholla, tak boleh di rumah. Saat tinggal di musholla inilah, buah hati laki-laki akan dididik ilmu agama dan ilmu silat.

Silek ialah faktor penting dalam kebiasaan dan adat masyarakat Minangkabau. Ada sebagian tipe aliran Silek di Provinsi Sumatera Barat, ialah Silek Kumanggo, Lintau, Tuo, Sitaralak, Harimau, Pauh, Sungai Patai, Luncua, Gulo-Gulo Tareh, Baru, dan Ulu Ambek.

2. Randai

Randai ialah salah satu kesenian teater khas masyarakat Minangkabau yang dimainkan oleh sebagian orang. Randai umumnya mengangkat cerita-cerita khas rakyat Minangkabau.

Kesenian tradisional randai menggabungkan seni nyanyian, tari, musik, drama, dan silat menjadi satu kesatuan. Randai awalnya dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Padang Panjang. Sesudah itu ditiru oelh tempat lain di Minangkabau.

3. Tari Piring
Tarian ini salah satu tarian tradisional khas Minangkabau yang memakai piring. Penari akan membawa sesaji yang diletakkan di atas piring.

Kemudian, sesaji hal yang demikian dibawa dan diletakan di telapak tangan oleh para gadis yang berpakaian bagus sembari melangkah dengan gerakan dinamis.

Tari piring telah berumur ratusan tahun. Pada awalnya tarian ini dibawakan untuk mengucap syukur terhadap para dewa karena mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap